Sang Visioner Sejati

Sang visioner itu mengagumkan bukan?
Dia memiliki mimpi masa depan yang gemilang, rencana yang tertata, asa yang tak berbatas, semangat yang tak mudah luntur, dan pengharapan yang tak pernah habis. Mimpi mereka tak hanya sebatas angan, karena Sang visioner itu bukan hanya tau yang dituju, tetapi juga tau bagaimana cara menggapainya

image

Kau tau, sepanjang perjalanan hidup ini, mungkin tak begitu sulit untuk mencari dan menemukan mereka yang Visioner. Namun sayang, kegigihan itu… kesungguhan itu.. ketekunan itu… terasa memilukan. Hanya karena satu point di awal yang tidak tepat. Terlalu rendah untuk ketinggian makhluk berakal, terlalu pendek untuk perjalanan waktu yang dihabiskan. Terlalu hina untuk diperjuangkan habis-habisan. Terlalu kosong untuk memenuhi semangat jiwa-jiwa hebat. Ialah tujuan.

Tujuan yang ingin diraih, pastikan ia terbang tinggi. Jangan kerdilkan diri dengan hasrat yang melambung rendah. Jangan menjadi ‘Sang Visioner semu’, yang menetapkan visi sebatas dunia. Sebatas kehidupan yang sebentar saja. Sebatas kebahagiaan yang hanya sepersekian dari yang selayaknya.

Parameter capaian visi antara dunia dan akhirat bukan seperti tangga, sama sekali bukan. Sehingga mencapainya pun bukan dengan mencapai dunia yang berada pada tangga pertama, lalu akhirat di tangga selanjutnya. Tidak. Sama sekali tidak demikian. Visi akhirat itu melingkupi dunia. Menjadikan standar kesuksesan para-visioner-semu terlihat gelap. Tak menarik untuk digapai.

Visi itu geraknya vertikal lalu horizontal. Benarkan dulu vertikalnya. Tujuannya. Jangan berbatas dunia. Setelahnya, baru kemudian boleh kau perbaiki horizontalnya. Efek pengaruhnya. Jangan terbalik.

Adalah hal baik jika kita memikirkan kesuksesan orang lain, mengharapkan kesejahteraan bersama, dan ingin bermanfaat bagi sesama. Tapi pastikan, tujuannya benar, kesuksesannya kesuksesan akhirat, kesejahteraan masyarakatnya dibangun dengan prinsip bagaimana masyarakat tidak terjatuh pada hal-hal bathil yang menjerumuskannya pada api yang menyala-nyala, sebaliknya yang pantas dilakukan adalah mengarahkan agar dapat menikmati taman surga bersama. Dan, bukankah tidak ada manfaat yang lebih besar dari kemanfaatan akhirat, sebagaimana tak ada penyesalan yang lebih dalam dari penyesalan di akhirat kelak.

Bertemanlah dengan orang-orang visioner sejati, karena mereka memahami hakikat hidup. karena mereka lebih menginginkan kebahagiaan di negri abadi. Dan  geraknya, keputusannya, cintanya, cemburunya, marahnya, muaranya jelas. Untuk akhirat.

Kau mungkin sempat kesal, pada mereka yang menegurmu, memperingatkanmu. Ada yang caranya lembut, ada pula yang menyakitkan. Namun kau tau, mereka yang menegurmu, mengingatkanmu akan akhirat walau dengan cara yang membuatmu sempat terluka lebih mungkin memiliki pandangan visioner. Karena yang dia pikirkan adalah akhiratnya akhiratmu. Kewajibannya mengingatkan dan keinginannya menemukanmu dalam jalan kebaikan hingga sampai pada jannahNya.

Kau mungkin akan bingung dengan langkah-langkah yang diambil Sang Visioner Sejati, membingungkan, terkesan tak logis, dan seolah tanpa perhitungan yang matang. Namun ketika kau cemooh mereka, kau ghibahi mereka, kau asingkan mereka, mereka tak tergubris. Karena yang mereka cari bukan mengumpulkan sebanyak-banyaknya ridha manusia, mereka tak butuh itu untuk mendongkrak nilai dirinya. Cukuplah ia berlelah-lelah mencari perhatian dari Rabb-Nya untuk merasa diri berarti.

Bukankah, jika kita buka Al-Qur’an, akan kita dapati surat-surat yang lebih dahulu turun adalah surat-surat makkiyah. Yang sebagian besar ayat-ayatnya bercerita tentang akhirat. Tentang surga dan neraka, tentang pahala dan siksa, tentang hari pembalasan, tentang hari perhitungan, tentang hari huru-hara. Tentang masa depan. Agar visi terpancang kokoh. Agar visi mengakar kuat.

Lalu ingatlah secuplik kisah tentang mereka Para Visioner Sejati. Ketika Rasulullah s.a.w akan menghadapi perang Tabuk, perang yang membutuhkan gelontoran dana yang tidak sedikit. Dibukalah bursa saham tersebut kepada para sahabat, ‘siapakah yang mau menginfaqkan hartanya untuk perang Tabuk’. Maka para sahabat berlomba-lomba menginfaqkan hartanya. Salah satu dari mereka ialah Abu Bakar radhiyallahu’anhu, sahabat kesayangan Rasulullah. Beliau menyerahkan seluruh hartanya. seluruhnya. bukan seperempat atau setengah. Beliau tak tinggal sendiri, ada keluarga yang harus dinafkahi. Ada keluarga yang butuh makan dan minum. Namun dialah Abu Bakar radhiyallahu’anhu, beranikah kau katakan beliau tidak memiliki perencanaan tentang besok dan lusa? Berani kau pertanyakan bagaimana jika nanti keluarganya membutuhkan keperluan mendadak?

Justru beliau telahpun merencanakan kehidupannya dan keluarganya dengan teramat baik. Allah tak akan pernah mendzhalimi dirinya dan keluarganya. Allah akan menjamin kehidupannya tak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Justru beliau telah memperhitungkan kemashlahatan keluarganya dengan jawaban yang meruntuhkan segala tanya.
Ketika Rasulullah saw. bertanya, ‘Hai Abu Bakar, berapa yang engkau sisakan untuk keluargamu.’ Abu Bakar menjawab, ‘Aku menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.’

“Cukup Allah dan RasulNya”.titik.
Jika jawabannya sudah demikian, maka segala pertanyaan keraguan tak pantas lagi untuk diajukan.

Sang Visioner Sejati, memiliki satu modal yang mungkin tak banyak dimiliki orang lain. Yakni Yakin. Yakin Janji Allah itu pasti. Yakin bahwa Dialah sebaik-baik pemenuh janji. Yakin bahwa kehidupan yang pantas dikejar bukan disini. Karenanya tak jarang kau dapati Para Visioner Sejati tak segan untuk melepaskan dunia, yang sebenarnya sangat mungkin mereka gapai, untuk meraih akhirat yang lebih pantas untuk diperjuangkan.

Maka jika belum mampu menjadi Visioner Sejati cobalah terus mendekat, belajar pada mereka Sang Visioner Sejati, semoga dengannya kita terdidik untuk hidup yang bervisi, langkah yang lebih pasti, waktu yang berarti, lalu rasakanlah mimpi itu tergambar lekat, terasa dekat, semakin dekat.

Terakhir, maaf jika mungkin sedikit keluar dari topik, hanya tiba-tiba teringat curhatan dari beberapa teman dan sahabat mengenai kebimbangan mereka, Saudariku sayang, jika ada seseorang yang datang padamu, meyakinkanmu dengan rencana-rencana ke depan, meyakinkanmu bahwa kehidupan ‘masa depan’ mu In syaa’allah akan terjamin bersamanya. Maka perhatikan kata-katanya, tanyakan padanya, dimana ia letakkan batas ‘masa depan’ nya? Apakah batas ‘masa depan’ yang ia maksud adalah hanya menua bersama, ataukah yang dia maksud berjuang bersama untuk meraih jannahNya?

Intermezzo:
Ini tulisan pertama yang kuposting setelah menikah, dan menjadi istri dari Zefrizal Nanda Mardani. Kuberitahu satu rahasia, dan ini cukup diantara kita, tak perlu kalian ceritakan padanya ya :),  ketika ta’aruf singkat dahulu, salah satu hal yang membuatku sulit untuk tidak menerimanya adalah karena pada dirinya (dalam pandanganku) aku melihat ada potensi karakter Visioner Sejati. Maka, katakan padaku mengapa aku harus menjauh dari seseorang yang terus berusaha mendekat pada kebahagian akhirat?

Wallahu a’lam…

Mengikhlaskan? Yakin?

image

“Sudah, ikhlaskan saja..”

Kalimat ini kerap terdengar, dan sebenarnya memiliki makna yang dalam. Sayangnya, pemaknaan kata ‘ikhlas’ telah bergeser dari makna sebenarnya.

Mengutip kata-kata Said Hawa dalam Tazkiyatun Nafs. Jika sesuatu itu bersih dan terhindar dari kotoran, maka itu dinamakan khalish (yang bersih), dan pekerjaan membersihkan disebut ikhlas. Maka ikhlas secara garis besar adalah kejernihan niat, tunggalnya tujuan.

Namun, seringkali ikhlas disama artikan dengan tulus. disejajarkan dengan rela.  Pada kalimat ‘ikhlaskan saja’ misalnya, pengertian awam yang tertangkap adalah ‘relakan saja’. Akan tetapi jika kita kembalikan pada makna awal ikhlas, ‘ikhlaskan saja’ bermakna tunggalkan tujuanmu, luruskan niatmu, lakukan itu hanya untukNya.

Entah bagaimana awalnya sehingga ‘ikhlas’ ini mengalami pergeseran makna. Walau kata ‘ikhlas’ seringkali disandingkan dengan ‘tulus’-yang lebih dekat dengan rela- tetap saja ikhlas dan tulus tidak dapat kita samakan.

Uhm, sebagian orang mungkin berpendapat pemaknaan ini sepele. Namun percayalah, pemaknaan kita terhadap sebuah kata akan mempengaruhi penilaian hati dan keyakinan.
Jika kita terbiasa menggeser makna ikhlas kepada rela, maka akan kita anggap mereka yang melakukan sesuatu karena terpaksa, tidaklah ikhlas. Sedang saat kita melakukan amal dengan tulus tanpa pamrih, melambung hati merasa niat telah bersih, telah ikhlas. Padahal lupa mengharap pamrih dari Rabb semesta alam.

***

Ikhlas, berbeda dengan tulus.
Kehadirannya yang sering berdampingan tak lantas menjadikan maknanya serupa.
Ada beda yang tetap nyata diantara mereka.

Jika kau melakukannya tanpa keterpaksaan, itu tulus.

Jika kau memberi tanpa mengharap balas, itu tulus.

Jika kau memaafkan tanpa bekas kemarahan, itu juga tulus.

Namun sayang, tak semua tulus berpangkal dari ikhlas..
Sebagaimana tak semua ikhlas berjalan dengan tulus.

Walau idealnya berdampingan, tulus tidak selalu bersandingkan ikhlas
Tulus tanpa ikhlas adalah kesiaan.
Tetapi ikhlas tanpa tulus tetaplah berarti

Karena ikhlas mengandung makna menunggalkan tujuan.
Lillah..
Hanya untuk Allah semata..

Karena tulus adalah tentang cara
Sedangkan ikhlas adalah tentang tujuan.
Karena ikhlas adalah pangkal yang akan menjadi penentu ujung
Sedangkan tulus adalah bagaimana cara kau berjalan dr pangkal hingga ujung
Karena tulus adalah tentang kerelaan hati
Sedangkan ikhlas adalah tentang penghambaan diri

Boleh jadi, dalam sedekahmu berat kau keluarkan selembar uang nominal terbesar terakhir dari dompet. Tapi kau takluk saat sadari ‘ada sebagian harta fakir miskin yg Allah titipkan.’

Boleh jadi berat kau taati perintah ibumu, namun Rabb-mu memerintahkan melalui sabda Rasul, “Ibumu,ibumu,ibumu, lalu ayahmu”

Boleh jadi berat kau tinggalkan keluarga demi berjuang di jalanNya, namun lebih kau takuti ancaman didalam ayatNya ‘ Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. (Qs. 9: 42)

Boleh jadi pula, kau berikan sesuatu yang kau cintai kepada temanmu, dengan tulus, tanpa pamrih. tanpa berharap balas. Namun kau lupa untuk mengharap pamrih dari RabbMu. Kau lupa menyertakan pengharapan atas keridhaanNya. Maka kau telah tulus, namun sudahkah ikhlas?

Tulus dan ikhlas adalah sempurna
Namun jika harus memilih, pilihlah yang pangkalnya telah benar. Ikhlas.
Dan biarkan langkahnya berproses.

Jika mungkin berat kita lakukan. Semoga terdidik hati kita dengan seringnya lisan menasehati hati,  mengucap ‘Inna shalati wa nusukii wamahyaya wa mamatii lillahi rabbil ‘alamiin…’
‘Sesungguhnya shalatku hidupku dan matiku hanya untukNya.’
Hanya untukNya. Lillah semata.

Semoga dengannya hati tersadarkan, terbangunkan. Hidup ini tak lain hanya untukNya. In syaa’allah akan dimudahkan, beratnya taat menjadi nikmat. Sulitnya ikhlas mengundang rahmat.
Biidznillah, semoga kita dimudahkan ^_^

#ikhlas itu tidak mudah, dan menulis adalah salah satu cara saya mendidik jiwa..

Ikatan

image

X)
Sahabat, sudah bertahun kita saling mengenal, sepertinya kita cocok. Kamu suka bercerita aku suka mendengar, kamu suka membaca dan berpetualang aku juga sama, teman-temanmu sebagian besar juga teman-temanku. Selera tempat ngobrol kita juga sama, di alam bebas. Yang menjadi kelemahanku seringkali menjadi kelebihanmu. Sehingga kita saling melengkapi. Namun hubungan ini bermasalah, aku khawatir…

Y)
Khawatir?masalahnya apa?
aku bisa mengalah jika ada hal-hal yang tak kau suka. Aku juga bisa belajar menyukai apa yang kau suka. Aku juga bisa meluangkan waktu jika kau rasa perlu. Lantas masalahnya dimana?

X)
Bukan, bukan itu masalahnya. Yang kau sebutkan mungkin adalah masalah-masalah yang dibahas dalam buku-buku psikologi tentang hubungan personal. Tapi bukan itu masalahnya.

Y)
Lantas apa?atau kau sudah bosan?sudah menemukan teman baru yang lebih menyenangkan, lebih bisa mengerti kamu?

X)
Bukan, bukan itu juga. Ini tentang hubungan kita..

Y)
Aku tak mengerti. Aku merasa tak ada yang salah dari persahabatan kita.

X)
Beberapa waktu lalu, ada kata-kata yang kubaca yang membuatku berpikir dan memaksaku merenungkannya dalam-dalam. Lalu hubungan kita ini, mengusik pikiranku.

Y)
Hanya karena sebaris kata-kata?, hey, aku pikir kamu cukup cerdas untuk mengetahui tidak semua buku harus kau percaya! Buku bisa saja salah. Kau tau kan banyak sekali penulis-penulis gadungan, yang menulis tanpa dasar, semaunya sendiri.

X)
Tidak, yang ini tak mungkin salah. Yang salah adalah hubungan kita.
Kata-kata itu tak mungkin salah.

Y)
Aku benar-benar tak percaya!semudah itu persahabatan ini goyah. Hanya karena kau membaca kata-kata yang..

X)
Bisa kau beri kesempatan aku menjelaskan?

Y)
Baik, terserah.. silahkan..

X)
Dengarkan kata-kata ini, kata-kata yang membuatku menyadari sesuatu,
 “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit kedua tangannya, seraya berkata, “Aduhai seandainya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku, seandainya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan jadi teman karibku. Sungguh dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an, ketika al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak akan menolong manusia”. (QS.Al-Furqan:27-29).
Itulah kata-kata yang tak terbantahkan, bukan dari psikolog ternama atau sosilog hebat yang selalu punya celah untuk salah. Kata-kata ini dari Yang menciptakan manusia. Maka selayaknyalah kata-kata ini kita renungkan kita pikirkan.
Kau tau, aku dulu menyangka persahabatanku dengan siapa saja tak akan begitu berpengaruh pada akhiratku. Lalu ayat ini menyadarkanku. Betapa di akhirat nanti akan ada segolongan manusia yang menjadi penghuni api neraka karena pengaruh kawan karibnya. Dan tak ada seorangpun yang bisa menjamin, bahwa kita bukanlah termasuk golongan itu. Betapa kita rasakan, kita lihat fenomena, bahwa sadar tidak sadar sahabat memberi warna pada diri kita, sebagaimana yang tersebutkan dalam hadits masyhur, mengenai seseorang dinilai dari dien sahabat dekatnya. Karenanya aku bertanya-tanya apa simpul ikatan kita ini sudah benar?  yang telah kita lakukan dari ikatan kita ini untuk akhirat kelak.
Kita..
lebih sering hanya ber haha-hihi, bersenang-senang, curhat ini dan itu, berjalan-jalan kesana kemari membuang-buang waktu. sangat duniawi.
Kita..
saling mengalah, tanpa peduli mana yang lebih benar demi urusan akhirat kita, yang penting persahabatan terjaga. Tak terlalu peduli apakah masalah ini akan menjerumuskan kita di akhirat kelak atau tidak.
Kita..
terlalu takut untuk saling menasehati dalam urusan dien, karena tak mau ada guncangan dalam ikatan ini. Atau kadang kita beralibi, untuk mencari cara yang tepat untuk menasehati, hingga seiring berjalannya waktu kita pun melupakan masalah ini.
Kita..
teramat menjaga ikatan ini. Namun lupa, siapa Yang membolak-balikkan hati. Lupa siapa Yang berkehendak menetapkan cinta di hati dan sewaktu-waktu dapat mencabut rasa cinta itu sesuai kehendakNya.
Kita lupa bahwa setiap ikatan, setiap hubungan akan dimintai pertanggungjawabannya.
Kita lupa bagaimana seharusnya persahabatan itu.

Y)
Kau benar, yang kita pikirkan adalah keridhaan dari masing-masing kita. Bukan keridhaanNya. Lalu, apa kau punya ide, apa yang harus kita lakukan? bisa kau beritahu aku bagaimana seharusnya persahabatan itu?

X)
Ilmuku masih dangkal, aku belum banyak tahu bagaimana seharusnya. Aku hanya ingat satu surat, yang Imam Syafi’i pernah mengungkapkan, ”Seandainya saja dari Al-Quran hanya turun tiga ayat Al-Ashr, maka cukuplah itu untuk menjadi pedoman manusia.” Di dalamnya paling sedikit erkandung 4 wasiat; beriman, beramal shaleh, saling menasehati dalam kebeneran dan bersabar. Maka semoga persahabatan ini mampu kita isi dengan 4 hal tersebut. Empat hal yang menghindarkan kita dari kerugian dan penyesalan.
Dan kau tau, kabar gembiranya, adalah sebuah cabang keimanan tertinggi ketika kita mencintai dan membenci hanya karena Allah semata. Maka semoga jika kita ingin menjaga ikatan ini, hal itu tidak lain karena persahabatan ini mendekatkan kita padaNya. Dan jika persahabatan ini malah menjauhkan kita dariNya, maka bukankah lebih baik tak perlu kita teruskan?

Y)
Aku mengerti sekarang apa yang mengkhawatirkanmu. Sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan dari sekedar masalah intrapersonal. Sesuatu yang bagi sebagian orang bukanlah masalah, karena ikatan mereka simpul ikatannya bukanlah karena Allah Ta’ala. Sepertinya banyak hal baru yang harus kita mulai, itu jika kita ingin menjadi sahabat sejati, yang tidak hanya di dunia 🙂 bukan begitu?

X)
Benar, ada ikatan yang harus lebih kita jaga, dibanding ikatan apapun di dunia ini. ikatan dengan Rabb kita. ikatan keimanan.

***********************************
Ini nasehat untuk diri, serta untuk siapapun yang mengenal diri. Agar ikatan kita tidak menjadi ikatan yang sia-sia lagi merugikan dalam perhitungan mizanNya.

@Penataran Bangil-Surabaya
 Sabtu, 24 Januari 2015 pkl 14.44
Perjalanan seringkali memantik inspirasi.